<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5905237550208066353</id><updated>2011-04-21T13:12:24.539-07:00</updated><category term='imajinasi-wawancara'/><title type='text'>Sejuta Puisi II</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sejuta-puisi2.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5905237550208066353/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejuta-puisi2.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5905237550208066353.post-9041315040840321517</id><published>2007-12-26T02:10:00.001-08:00</published><updated>2007-12-26T02:10:33.061-08:00</updated><title type='text'>XV. Kesamaran Penumpang Gelap</title><content type='html'>&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;166. Sajak selalu tak tegas sikapnya. Samar-samar gitu. Memang begitukah hakikat sajak?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kita mulai lagi bicara soal puisi baik dan puisi buruk. Ini sudah kita bicarakan. Tapi memang sepanjang sejarah perpuisian, hal ini paling sering dibicarakan. Sejarah puisi memang diwarnai dengan pencapaian-pencapaian baru, pengucapan baru, estetika baru, kaidah baru. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;167. Ya, itu yang membuat puisi selalu menarik diikuti. Tapi, saya tahu gelagatmu yang suka melenceng, jawab dulu soalan tadi…&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Memelencengkan arah bahasa, menyempal dari arus perpuisian yang jadi tren adalah tantangan penyair. Jangan takut melenceng. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;168. Tuh kan….&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;He he he. Ya, puisi yang baik memang seperti orang yang berjalan di jalanan berkabut. Samar, tapi terasa adanya, terbaca gerak langkahnya. Bila kita terbiasa berada atau melintas di jalanan berkabut itu, atau sering atau sekadar pernah bertemu dengan siapa yang berjalan itu, kita mungkin bisa bersapaan dengannya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Atau kita bisa bertukar salam saja dan terus membiarkan orang itu berlalu, tak perlu berkeras menahannya. Puisi yang buruk itu seperti kabut itu sendiri: hanya menawarkan kesamar-samaran; atau jalan lebar terang yang terlalu nyaman dilalui. Nah, kalau di jalanan itu tak ada kabut, lalu ada seorang petugas yang sok mengatur ditambah sejumlah rambu dan penunjuk jalan, maka itu bukan puisi. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;169. Saya tahu, puisi tidak hendak memaksakan apa-apa. Biarlah pembaca yang mengembangkan anggapan sendiri. Biarlah pembaca yang menggigil sendiri ketakukan karena menganggap orang di balik kabut itu sebagai hantu, atau senyum-senyum sendiri karena membayangkan orang di balik kabut itu adalah kekasih yang lama ia nantikan… &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ya, makna itu jangan dipaksakan. Kalau kita ingin menyajikan puisi yang baik. Yang mengesankan jejak yang dalam di benak sebanyak-banyaknya pembaca. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;170. Lalu apa kita tidak boleh menumpangkan sesuatu di puisi kita sendiri?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Boleh. Dan boleh-boleh saja. Tapi, saran saya kita harus pandai menyeludupkan sesuatu itu sebagai penumpang gelap dalam puisi kita. Namanya juga penumpang gelap, jangan terlalu tampak  kapan dia naik ke perahu puisi kita. Jangan terlalu kentara adanya dia dalam sajak kita. Biarlah dia terasa ada sejak kita mulai menulis, menyelesaikan, lalu menyimpannya. Mungkin sebaiknya kita pura-pura tak kenal saja dengan dia. Biarlah nanti ada pembaca yang memberi tahu kita ihwal keberadaan penumpang gelap itu. Biarkan saja. Malah lebih baik kalau kita bisa membangun banyak ruang rahasia dalam puisi kita, agar para penumpang gelap itu semakin banyak menyelinap. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;171. Membaca sajak, berarti sama saja dengan mencari-cari siapa penumpang gelap dalam sajak itu? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ssst, saya sering bertemu tak sengaja si penumpang gelap itu ketika membaca kembali puisi-puisi yang sudah saya tuliskan. Itulah justru yang membuat puisi itu jadi asyik untuk dibaca kembali. Saya juga banyak bertemu beberapa penumpang gelap pada puisi-puisi hebat lainnya yang saya sukai. Tapi, ketika membaca puisi untuk menikmatinya ya baca saja, jangan dibebani keinginan untuk bertemu dengan dia – si penumpang gelap itu. Kalau bertemu ya itu bonus, itu kejutan yang tak pernah dijanjikan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;172. Siapakah  penumpang gelap itu? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ssst, bahkan dalam perbincangan ini pun sang penumpang gelap adalah penumpang gelap. Saya juga tidak kenal dia. Saya tak punya alasan untuk bertanya apakah dia punya tiket atau tidak&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5905237550208066353-9041315040840321517?l=sejuta-puisi2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejuta-puisi2.blogspot.com/feeds/9041315040840321517/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5905237550208066353&amp;postID=9041315040840321517' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5905237550208066353/posts/default/9041315040840321517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5905237550208066353/posts/default/9041315040840321517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejuta-puisi2.blogspot.com/2007/12/xv-kesamaran-penumpang-gelap.html' title='XV. Kesamaran Penumpang Gelap'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5905237550208066353.post-2809681284340844394</id><published>2007-12-06T23:58:00.000-08:00</published><updated>2007-12-07T00:07:25.111-08:00</updated><title type='text'>Akademi Jakarta Beri Penghargaan Bang Ali dan Bang Tardji</title><content type='html'>         Dalam usaha meningkatkan apresiasi dan penghargaan terhadap kesenian sebagai produk kebudayaan manusia, Akademi Jakarta setiap tahun memberi anugerah kepada seniman budayawan yang dipandang telah berhasil menanamkan kontribusinya yang penting bagi perkembangan kesenian Indonesia yang ikut mewarnai corak pada kebudayaan bangsa.&lt;br/&gt;         Tahun ini Akademi Jakarta, melalui serangkaian pemilihan atas sejumlah nama yang patut diperhitungkan, menetapkan sosok SutardjiCalzoum Bachri (SCB) sebagai penerima Penghargaan Akademi Jakarta Tahun 2007.  SCB dipandang telah memperlihatkan capaian estetik yang reputasional, integritas dan pengabdiannya yang luar biasa dalam bidang kesusastraan Indonesia &lt;i&gt;(life achievement)&lt;/i&gt;. Ia juga telah berhasil menancapkan corak tersendiri bagi perkembangan kesusastraan, khususnya perpuisian Indonesia sesudah Chairil Anwar.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;         Tahun ini juga Akademi Jakarta memberi Penghormatan yang tinggi kepada Ali Sadikin yang dipandang telah berhasil sebagai sosok Pemancang Tonggak Peradaban dan Martabat Bangsa. Jasanya yang luar biasa untuk bidang kesenian dan kebudayaan terutama bagi seniman/budayawan di Jakarta telah berimbas luas dan kuat mempengaruhi kehidupan kesenian di Indonesia secara keseluruhan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="center"&gt;Acara ini akan digelar: &lt;br/&gt;  Senin, 10 Desember 2007&lt;br/&gt;Mulai pukul   10.00 WIB sampai selesai&lt;br/&gt;di   Teater Kecil (Studio), Jalan Cikini Raya 73 Jakarta &lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;         Selain itu, acara ini juga diisi oleh Pidato Kebudayaan SCB sebagai pertanggungjawaban sikap berkeseniannya selama ini serta  perspektifnya atas konstelasi kesusastraan, kesenian, dan kebudayaan Indonesia. Di samping itu, budayawan dan penyair si Burung Merak, Rendra juga akan menyampaikan kata pengantar untuk Pemberian Penghormatan Akademi Jakarta kepada Ali Sadikin. Acara ini terbuka untuk umum dan penting untuk melihat pemikiran kedua maestro itu (Ali Sadikin dan Sutardji Calzoum Bachri) dalam menyikapi perkembangan mutakhir kesenian dan kebudayaan Indonesia.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Maman S. Mahayana&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5905237550208066353-2809681284340844394?l=sejuta-puisi2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejuta-puisi2.blogspot.com/feeds/2809681284340844394/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5905237550208066353&amp;postID=2809681284340844394' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5905237550208066353/posts/default/2809681284340844394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5905237550208066353/posts/default/2809681284340844394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejuta-puisi2.blogspot.com/2007/12/akademi-jakarta-beri-penghargaan-pada.html' title='Akademi Jakarta Beri Penghargaan Bang Ali dan Bang Tardji'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5905237550208066353.post-3566928512216191473</id><published>2007-11-28T02:10:00.000-08:00</published><updated>2007-11-28T03:21:44.853-08:00</updated><title type='text'>[005] Imajinasi Wawancara:</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Membaca, Memanggungkan Sajak&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;i&gt;Oleh: Hasan Aspahani&lt;/i&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;AH, saya bertemu beliau lagi. Saya bertemu Sutardji Calzoum Bachri lagi. Dia adalah salah satu dari pembaca puisi terbaik kita. Ini adalah puncak kepenyairan Sutardji yang lain: dia adalah pembaca sajak yang hebat. Dia tidah hanya hebat membaca  sajaknya sendiri. Saya pernah melihat dia membaca sajak Chairil Anwar dan bagus sekali. Saya tak pernah membayangkan sajak “Aku” dibaca sebagus Sutardji membacakannya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Sajak-sajak Sutardji, salah satu kelebihannya adalah sangat enak, terbuka, dan membuka diri untuk ditafsirkan di panggung. Ia tentu saja pembaca yang baik atas sajak-sajaknya. &lt;br/&gt;Tidak semua penyair pandai membacakan sajaknya di panggung. Tidak ada keharusan untuk itu, memang.  Tapi toh juga bukan sebuah aib ketika penyair bagus melisankan sajak-sajaknya sendiri. Itu justu sebuah kelebihan yang boleh dicapai untuk memaksimalkan kepenyairan seorang penyair.  Apa kata Sutardi soal baca puisi? Berikut ini petikan obrolan khayalan saya dengannya: &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hasan Aspahani (HAH): Apakah sebenarnya yang paling penting disadari oleh penyair sebelum ia membaca sajaknya atau sajak orang lain di panggung?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sutardji Calzoum Bachri (SCB): Kenapa bertanya soal itu?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;HAH: Kenapa? Saya kira tidak bertanya pada orang yang salah. Saya kira pertanyaan itu paling pas ditanyakan pada Anda. Sajak Anda, vokal Anda, cara Anda membaca sajak adalah perpaduan yang amat memukau di panggung-panggung di mana pun Anda baca sajak.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;SCB: He he he. Baiklah. Baca sajak terutama bukanlah masalah vokal, tetapi juga melibatkan unsur “kehadiran”. Jika terutama yang diperhatikan masalah vokal saja, maka itu hampir mengingatkan kita pada hakikatnya baca sajak lewat siaran radio.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; HAH: Kehadiran?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;SCB: Membaca sajak di depan publik bukanlah sekadar untuk didengar. Hadirin bukan hanya sekadar mendengar suara si pembaca sajak. Unsur bagaimana kehadiran si pembaca sajak di atas pentas adalah suatu hal yang sangat penting atau cukup menentukan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;HAH: Oke, selain vokal apa yang menentukan kehadiran sajak dan kehadiran si pembaca sajak di panggung?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;SCB: Membaca sajak adalah usaha menampilkan kembali apa yang terkandung dalam sajak melalui vokal, gerak dan mimik. Seorang pembaca harus mampu menafsirkan kata-kata yang terdapat dalam sajak sedemikian rupa, dan mampu pula menggunakan unsur-unsur dalam tubuhnya mulai dari suara sampai gerak.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; HAH: Menafsirkan sajak lalu menampilkan penafsiran itu dengan vokal, gerak tubuh dan mimik?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;SCB: Ya, betul. Karena itu mungkin sebuah sajak tidak segera tertangkap maknanya apabila kita hanya sekali saja membacanya. Oleh karena itu kita harus membacanya berulang-ulang, mencoba mereka-reka apa yang terdapat di dalamnya, menghubungkan makna kata yang satu dengan kata yang lain. Ia harus meresapi apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh penyair, apa yang dirasakan dan dipikirkan olehnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; HAH: Setelah penafsiran itu maka performance itu penting?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;SCB: Ya. Unsur performance memanglah sangat besar dan mempengaruhi sekali dalam hal baca sajak.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; HAH: Penafsiran itu kan tidak tunggal, Pak? Terutama pada sajak-sajak yang baik?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;SCB: Ya, tentu saja begitu. Sebuah sajak merupakan sederetan kata-kata yang memberikan kemungkinan-kemungkinan tak terbatas untuk interpretasi pembacanya. Tidak ada hanya satu-satunya cara pembacaan sajak yang sah untuk sebuah sajak. Selalu ada kemungkinan-kemungkinan interpretasi pembacaan yang lain, yang juga sah. Karena, sebuah sajak pada hakikatnya menantang kreativitas si pembaca dalam membacakannya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; HAH: Begini, Pak. Apakah pembaca sajak itu sekadar membacakan sajak kepada atau untuk pendengar?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;CSB: Oh, tidak. Pembacaan sajak bukanlah hanya sekadar mengantarkan sebuah sajak dari seorang penyair kepada hadirin. Dia bukanlah peristiwa yang netral. Dia melibatkan unsur subjektif dari yang membacakan sajak, perangai dari si pembaca sajak. Dia melibatkan perangai dari sajak yang akan dibacakan. Dia melibatkan perangai dari si pembaca sajak. Dia melibatkan perangai dari publiknya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Membaca sajak di depan hadirin atau penonton pada hakikatnya ialah menampilkan diri dalam situasi tertentu untuk mengucapkan sajak dengan tujuan menyampaikan penghayatan dan penafsiran terhadap sajak tersebut dalam intensitas yang maksimal kepada para penonton.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; HAH: Situasi penonton itu penting juga ya Pak untuk diperhatikan?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;SCB: Ya, misalnya bila audience hiruk pikuk dan acuh tak acuh, seorang pembaca sajak yang baik harus bisa menjuruskan perhatian mereka kepada pembacanya. Dia ditantang untuk kreatif dalam situasi semacam itu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Yang lebih penting adalah, pembaca sajak harus bisa menampilkan kepribadiannya sendiri dalam membaca sajak. Dia tidak diharapkan untuk menjiplak cara baca sajak dari si pembaca yang lain.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; HAH: Tapi, kan bukan hanya penonton yang berpengaruh saat kita membaca sajak itu?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;SCB: Ya, betul. Ketika membaca sajak, si pembaca terkait atau berhubungan dengan situasi tertentu. Dia berada di suatu tempat tertentu, ruang tertentu, dengan hadirin dalam jumlah tertentu dan dengan keadaan tertentu pula. Suatu situasi tertentu bisa membantu di dalam membaca sajak. Akan tetapi, suatu situasi tertentu yang lain bisa pula mengganggu keberhasilan suatu pembacaan sajak.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Peristiwa baca sajak pada hakikatnya adalah suatu peristiwa situasional, di mana diharapkan si pembaca sajak bisa mengambil keputusan dan tindakan kreatif dalam menjawab lingkungan, suasana serta saat ketika sajak dibacakan, berdasarkan dan dengan sajak yang dibacakannya.[]&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Bacaan:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;i&gt;Sutardji Calzoum Bachri, “Isyarat, Kumpulan Esai”, IndonesiaTera: Yogyakarta, 2007.&lt;/i&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5905237550208066353-3566928512216191473?l=sejuta-puisi2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejuta-puisi2.blogspot.com/feeds/3566928512216191473/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5905237550208066353&amp;postID=3566928512216191473' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5905237550208066353/posts/default/3566928512216191473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5905237550208066353/posts/default/3566928512216191473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejuta-puisi2.blogspot.com/2007/11/005-imajinasi-wawancara.html' title='[005] Imajinasi Wawancara:'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5905237550208066353.post-1816484775710943888</id><published>2007-11-28T01:03:00.000-08:00</published><updated>2007-11-28T01:06:59.419-08:00</updated><title type='text'>Binhad, Kuda Ranjang dan Bau Betina (2)</title><content type='html'>&lt;span&gt;&lt;blockquote&gt;...&lt;br/&gt;&lt;i&gt;puisi kalian rata kiri&lt;br/&gt;puisiku rata kanan&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;Binhad Nurrohmat menuliskan kredo yang ia sebut bukan sekadar kredo itu di buku pertamanya "Kuda Ranjang" (Melibas: Jakarta, 2004). Sebagai kredo, tentu ia harus menaatinya. Maka, kita akan menemukan sajak-sajaknya di buku atau di surat kabar sedemikian itulah: rata kanan. Ini adalah kejelian dan kecerdikan penyair Binhad. Dengan cara yang sesepele itu, ia sudah menandai sajak-sajaknya. Ini tentu saja tidak langsung menunjukkan pada mutu sajak-sajaknya. Jurus Binhad ini hanya permainan tipografi, dan kita tahu tipografi hanyalah salah satu dari struktur fisik sajak. Pilihan itu - dan pilihan apapun dalam sajak - tentu berisiko. Binhad, dengan demikian, kehilangan kesempatan untuk memain-mainkan tipografi untuk mencapai efek lain. Ia tentu sudah menghitung untung-rugi jurus itu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Jika kredo itu kita baca lebih jauh, maka ini juga berarti pilihan sajak Binhad yang menyisi ke sisi lain dari sajak-sajak "kalian". Jika sajak adalah ihwal mengucap, maka Binhad telah memilih segugus kata-kata sebagai alat-alat untuk mengucapnya, dan pilihan itu tentu ia maksudkan sebagai upaya untuk mencapai kekhasan ucapan. Maka dalam sajak-sajaknya enak saja ia memakai kata-kata "zakar", "berak", "tahi", "bokong", "air kencing", "mengentot", "daging bugil", "batang keras penisku", "gerbang syahwatku", "birahi mengental", "mata air penismu", "ganas ranjang", "menyemburkan sperma", "melunaskan liur kelamin", "serabut sumbu kelamin", "otot-otot kelangkang".&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Tentu saja penyair lain juga ada yang memakai kata-kata dan frasa demikian itu. Penyair Sutardji misalnya pada buku "O Amuk Kapak" (Sinar Harapan: Jakarta, 1981) dalam kadar yang sangat terkontrol ada memakai kata "kelengkang" (bukan "kelangkang"), "dara menggigit kutang", "menguap di atas ranjang", "kamar sudah bertelanjang sendiri", "kau lipat aku dalam pahamu", "payau dalam geliat syahwat", "sampai tumbuh jembutnya", "kuterjemahkan kelaminku ke dalam kelaminmu", "copot tulang telanjang bau", "susu haru segala perempuan". &lt;br/&gt; Bandingkan penggalan-penggalan kata dan frasa di atas. Sekilas tak ada bedanya mana yang dari Tardji dan mana yang dari Binhad. Tetapi coba kembalikan ke sajak aslinya, maka akan segera terlihat betapa Tardji di dalam sajaknya bisa mencapai tingkatan makna, dan menurut saya ia berhasil mengeduk kemurnian dari imaji-imaji "kotor" itu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Dan yang paling liar adalah apa yang ditampilkan Tardji pada penggalan sajak "Amuk", ketik&lt;br/&gt;a ia menderetkan dengan tipografi yang meruncing: &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;apakah manusia? &lt;br/&gt;                hasrat&lt;br/&gt;                             kaki&lt;br/&gt;                                       paha&lt;br/&gt;                                                  kontol&lt;br/&gt;                                                                puki&lt;br/&gt;                                                                         perut&lt;br/&gt;                                                                                    badan&lt;br/&gt;                                                                                                 ....&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Kata "paha", "kontol", "puki" dalam sajak di atas hadir sejajar dengan kata lain. Mereka tidak mengambil peran utama, tetapi juga bukan sekadar figuran. Lagi pula, Sutardji sudah memberi alasan pada kehadiran kata-kata "jorok" itu. Pada kredonya yang terkenal, ada satu misi sajaknya yaitu membebaskan kata-kata dari moral kata yang dibebankan masyarakat, sehingga di tangan Penyair Sutardji tidak ada kata yang dianggap kotor atau jorok &lt;i&gt;(obscene)&lt;/i&gt;.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Pencapaian Sutardji yang lain dapat dibaca pada sajak "Mesin Kawin". Imaji-imaji seksual ia hadirkan dengan baik dan keras justru tanpa ia menyebutkan langsung nama-nama alat kelamin. Ia menggantikan dengan "baut" dan "sekrup". Tarji, tidak main sembarang umbar, ia tidak asal liar. Motivasi Tardji bukan menghadirkan sekental-kentalnya bau seksual dalam sajaknya, tetapi mencapai setinggi-tingginya makna eksistensi manusia di dunia. Di sinilah ia berbeda, di sinilah ia unggul.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Pada Binhad, memang telah ada upaya untuk memaksimalkan penggunaan kata "kotor" itu, dengan harapan akan tergali kemungkinan pemaknaan lain dari diksi itu. Binhad ingin mencapai kekhasan ucapan dari jurus itu. Pada pandang pertama, akan mudah timbul kesan bahwa Binhad sekadar ingin tampil berbeda. Saya melihat upaya Binhad "menempuh jalan lain" jadinya terasa sia-sia karena ia terasa seperti "ingin mengejar" apa yang sudah dicapai Tardji itu. Jika penglihatan saya ini benar, sejauh ini maka pengejaran itu sia-sia. Tardji sudah sangat jauh berlari, sudah mencapai puncak yang tinggi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Binhad adalah penyair yang terobsesi pada tema-tema perkelaminan? Kata obsesi mungkin tidak tepat. Ada kesan ia tertarik ke sana tanpa daya untuk menghindarinya. Lebih tepat mungkin termotivasi. Ia dengan sadar memilih tema itu, dengan alasan-alasan yang bisa kita tebak, tetapi tentu hanya dia yang tahu persis apa dan kenapa ia memotivasi diri dengan pilihan itu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Coba kita perhatikan sepilihan baris pertama sajak-sajaknya dalam "Kuda Ranjang". &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;1. Anusmu yang bagus&lt;br/&gt;2. Wangi kilat lampu menggayuti pantat janggutmu&lt;br/&gt;3. Gelombang malam gemerincing&lt;br/&gt;4. Tak semua hasrat bisa menjelma burung&lt;br/&gt;5. Mata bor merah berkilat&lt;br/&gt;6. Darahku sudah berkali meronta&lt;br/&gt;7. Syahwatku tak mau tamat&lt;br/&gt;8. Di kamar ini kenyataan diluar kusudahi&lt;br/&gt;9. Mati itu sehelai jembut tercerabut&lt;br/&gt;10. Sepanjang kencan ingin kutusukkan tombak zakar&lt;br/&gt;11. Rontokan harum ikal rambutmu telentang di bantal&lt;br/&gt;12. Geletar urat kelamin mencengkeram tepi ranjang&lt;br/&gt;13. Cupang merah tertancap di pangkal leher&lt;br/&gt;14. Seorang tante pecinta cermin&lt;br/&gt;15. Di rumah ini tak ada lagi bau amis pakaian dalammu&lt;br/&gt;16. Tubuhnya gemetar dan bulu hidungnya tercerabut&lt;br/&gt;17. Lama kusimpan gambar dari putih pahamu&lt;br/&gt;18. Cintamu busuk&lt;br/&gt;19. Jangan mengokang bedil malam ini"&lt;br/&gt;20. Kelaminku tak cuma satu&lt;br/&gt;21. Kisut bibirmu menggambar selaput cahaya&lt;br/&gt;22. Birahi musafir mampir lagi&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Coba perhatikan, 22 dari 48 sajak Binhad dimulai dengan baris-baris di atas. Baris yang secara seragam jelas menggambarkan sajak seperti apa yang hendak dimulai dengan baris seperti itu. Sajak-sajak lain, meskipun tak dimulai dengan bait pertama tadi, isinya pun senada. Ini menunjukkan satu hal: Binhad konsisten menjaga pilihan pengucapan tema-tema sajaknya. Dan yang sungguh berarti adalah betapa terlihat ikhtiar Binhad untuk mencari, mencapai sesuatu, merintis jalan sajaknya sendiri. Saya karena itu amat menghargai apa yang ia capai pada sajak yang dimulai dengan bait ini:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;i&gt;&lt;blockquote&gt;Kenapa birahi menjadi mula kisah di bumi&lt;/blockquote&gt;&lt;/i&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Itulah bait pertama sajak "Ujung". Sebuah bait yang menumbuk, menohok, dan "dalem banget". Jika ini bukan sajak terbaik Binhad dalam buku "Kuda Ranjang" maka saya harus mengakui bahwa itu adalah sajaknya yang paling saya sukai. Pada sajak itu Binhad berhasil mengupas "kecabulan" - meski itu sebenarnya bukan masalah utama - dari kata-kata "kelengkang", "kelamin pacar", "berahi", "tubuhku tumbuhmu", dan karena itu ia berhasil mengucapkan dengan murni kerisauan dari sebuah pertanyaan besar kehadiran manusia di bumi - seperti yang ia ucapkan dalam sajaknya: "kenapa orang tak bisa menjadi saksi dari mana muasal dirinya"?&lt;br/&gt; &lt;br/&gt; Binhad sesunguhnya adalah penyair yang dengan amat sadar dan sungguh-sungguh menjalani peran kepenyairannya: menyelami kehidupan dan mencari dengan sungguh-sungguh bagaimana mengucapkan apa yang ia dapt dari penyelaman itu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sesungguhnya, ia telah berhasil mencuri perhatian dengan pengucapannya yang "berbeda" ditambah sensasi di luar kerja menyair dan karya puisinya, seperti ketika beredar kabar bahwa buku sajak pertamanya ditarik kembali oleh penerbit dan diturunkan dari rak buku sebuah jaringan toko buku besar, dan keberaniannya berpolemik dengan nama-nama kritikus dan penyair senior.&lt;strong&gt;(bersambung)&lt;/strong&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5905237550208066353-1816484775710943888?l=sejuta-puisi2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejuta-puisi2.blogspot.com/feeds/1816484775710943888/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5905237550208066353&amp;postID=1816484775710943888' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5905237550208066353/posts/default/1816484775710943888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5905237550208066353/posts/default/1816484775710943888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejuta-puisi2.blogspot.com/2007/11/binhad-kuda-ranjang-dan-bau-betina-2.html' title='Binhad, Kuda Ranjang dan Bau Betina (2)'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5905237550208066353.post-7611608105460870699</id><published>2007-11-28T00:58:00.001-08:00</published><updated>2007-11-28T00:58:58.991-08:00</updated><title type='text'>Bau Betina dan KAKUS-Listiwa (1)</title><content type='html'>SIARAN pers itu mula-mula muncul di beberapa milis sastra, dan beredar pula dari sur-el ke sur-el. Isinya adalah sebuah akan. Ya, isinya adalah berita tentang rencana diskusi bertajuk “Media Massa Alternatif sebagai Media Perjuangan” yang akan digelar di Perpusda Banten  Jl. Saleh Baimin No. 6 Seran, Banten, Sabtu, 24 November 2007 pukul 13.30.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt; Pada berita yang dikirim oleh Viddy AD Daery (atau setidaknya melalui alamat emailnya) diskusi itu digarap sama-sama oleh Bulletin Teater ActinG dan Jurnal Sastra Boemipoetra. Dan melibatkan beberapa Media Massa Alternatif (huruf kapital di awal kata, memang berasal dari siaran pers tersebut) lain yang ada di Banten seperti: Banten Muda, Titik Nol, Banten Link. &lt;br/&gt; Akan tampil sebagai pembicara adalah Lee Birkin (ActinG), Wowok Hesti Prabowo (Boemipoetra) , Irfan (Banten  Muda), Suryadi Sali dan Iman Nur Rosyadi (Banten Link). Menurut Lee Birkin, tema diskusi ini menarik untuk dibicarakan karena adanya keterlibatan ‘wong cilik’ yang sedang berbuat sesuatu bagi masyarakat. Lewat media massa wong ciliK ini, masyarakat bisa mengetahui kondisi pojok-pojok kehidupan yang tak terberitakan oleh media massa lainnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Perhatikan beberapa kata penting dalam berita itu: alternatif, perjuangan, wong cilik. Perhatikan juga kutipan dari Lee Birkin. Ada kata "keterlibatan", "berbuat sesuatu bagi masyarakat", "pojok kehidupan yang tak terberitakan oleh media massa lain". &lt;br/&gt; Jika ada penyebutan kata alternatif, berarti ada yang hendak ditolak, berarti ada yang hendak diganti. Yang alternatif adalah tawaran pengganti dari apa yang hendak ditolak itu. Menyebut nama "wong cilik", berarti media yang hendak ditolak itu dianggap tidak atau kurang melibatkan "wong cilik", dan media alternatiflah yang berjanji, atau berniat untuk memberi perhatian kepada "wong cilik" itu. Seluruh tawaran ini disimpulkan dalam satu kata: "Media Perjuangan". Ada nada heroik pada kata itu. Ada kesadaran bahwa pilihan pada jalan ini bukanlah jalan yang gampang. Ini sebuah perjuangan, Bung! Jadi para pelakunya atau para pejuangnya ya siap menderita. Siap menghadapi perlawanan dari apa yang hendak dilawan!&lt;br/&gt; Yang lebih menarik dari siaran pers itu adalah sesudah diskusi, disebutkan, akan diadakan penyerahan Anugerah Kakus-litiwa! (kelak nama ini berganti menjadi KAKUS-Litiwa). Anugerah ini diberikan kepada Buku Sastra Terburuk tahun 2007 yang jatuh pada buku berjudul "Bau Betina" kumpulan puisi kedua penyair asal Lampung yang kini bermukim di Jakarta, Binhad Nurrohmat.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt; Dan ini kutipan dari Wowok Hesti Prabowo, yang disebut di dalam siaran pers sebagai pemrakarsa penghargaan itu, “Pemenang kakus-litiwa award akan mendapatkan tropi berupa miniatur kakus dan uang sebesar seratus rupiah." Kata Wowok, buku "Bau Betina" (I:boekoe, Yogyakarta, 2007) berhasil menyingkirkan sepuluh nominator buku terburuk tahun ini yang diseleksi oleh para sastrawan Boemipoetra di berbagai kota di Indonesia.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Main-main yang Tak Main-main&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt; Gagasan pemberian anugerah kepada buku sastra terburuk ini, saya kira bukan sebuah upaya yang main-main, meskipun ada bunyi main-main yang sangat nyaring. Jika dari tahun ke tahun, pemberian anugerah ini berterusan, maka sastrawan Indonesia saya kira akan memperhitungkan benar karya-karyanya agar kelak ketika dibukukan terelakkan dari penghargaan ini. Anugerah ini berhasil, kelak, jika suatu saat tidak ada lagi buku yang pantas mendapatkan penghargaan tersebut.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt; Saya tak tahu bagaimana panitia dan juri Kakus-Litiwa bekerja. Apakah penerbit atau sastrawan mengirimkan karyanya untuk dinilai? Ataukah jaringan "sastrawan Boemipoetra" di berbagai kota di Indonesia itu yang bergerilya, mengumpulkan buku-buku lantas berdikusi untuk memutuskan mana buku yang pantas mendapatkan penghargaan? Menarik untuk diumumkan siapakah sastrawan dan buku karyanya yang masuk nominasi yang akhirnya tersingkir oleh kemahaburukan "Bau Betina"? Dan yang lebih penting adalah seburuk apakah "Bau Betina"? Di mana buruknya? Kenapa buruk?&lt;br/&gt; &lt;br/&gt; Jika pertanyaan atas jawaban itu terjawab saya kira Kakus-Litiwa akan memberikan sumbangan yang amat besar memperbagus kesusasteraan Indonesia. &lt;br/&gt; Lantas ada lagi sebuah sur-el lain yang beredar dari milis ke milis juga. Isinya juga siaran pers: Anugerah KAKUS-Listiwa Award Diserahkan Hari Ini di dalam KAKUS! "Hari ini" merujuk ke tanggal 24 November 2007, tanggal ketika siaran pers itu dikirimkan dari alamat sur-el boemiputra@yahoo.com.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt; Anugerah diserahkan di sebuah WC UMUM/KAKUS di Ciceri, Serang, Banten (tak jauh dari Perpusda Banten). Binhad Nurrohmat mendapat hadiah berupa miniatur KAKUS dan uang Seratus Rupiah. Karena ia tidak datang pada acara penganugerahan tersebut, maka miniatur KAKUS akan dikirim via pos. Jadikah seminar "Media Massa Alternatif sebagai Media Perjuangan" itu? Saya tak mendapat kabar pasti.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Hanya ada penjelasannya ini: KAKUS-Listiwa Award - nama dan cara penulisan memang berganti dari sur-el semula - adalah bentuk ejekan bagi Khatulistiwa Award! Bau Betina dan sembilan buku lainnya yang masuk nominasi Khatulistiwa Award (10 Buku Terbaik) juga masuk KAKUS-Listiwa Award (10 Buku Terburuk) sepanjang tahun 2007. Keterangan ini juga berbeda dari siaran pers sebelumnya yang sama  sekali tak menyebutkan bahwa nominasi Khatulistiwa Award adalah juga nominasi KAKUS-Listiwa Award. Sebelumnya disebutkan bahwa seleksi diadakan di beberapa kota oleh sastrawan Boemipoetra!&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Sampai di sini, saya mulai tidak bisa melihat kelucuan lagi. Coba simak kutipan ini: "Terpilihnya 'Bau Betina' sebagai buku terburuk 2007 setelah melalui seleksi dan perdebatan cukup ketat di antara dewan juri yang terdiri dari para sastrawan Boemipoetra." Seketat apa seleksi dan perdebatan itu? Bukankah, panitia dan juri tinggal membaca 10 judul buku yang diumumkan oleh panitia Anugerah Sastra Khatulistiwa? Lagi-lagi, tidak ada penjelasan kenapa "Bau Betina" diberi gelar sebagai buku "Terburuk 2007".&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;   Yang pasti, panitia dan juri KAKUS-Listiwa Award juga menganggap buruk buku-buku berikut: "Angsana" (Soni Farid Maulana/Ultimus), "Dongeng untuk Poppy" (M. Fadjroel Rahman/Bentang), "Jam-Jam Gelisah" (Todung Mulya Lubis/GPU), "Kepada Cium" (Joko Pinurbo/GPU), "Laut Akhir" (Isbedy Stiawan ZS/bukupop), "Menjadi Penyair Lagi" (Acep Zamzam Noor/Pustaka Azan), "Notasi Pendosa" (Acep Iwan Saidi/LKiS), "Paus Merah Jambu (Zen Hae/Akar), "Tamsil Tubuh yang Terbelah" (Amien Kamil/Mata Angin).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Pertanyaan saya berikutnya kenapa panitia KAKUS-Listiwa memilih kategori puisi untuk diejek? Kenapa bukan prosa? Lantas kenapa Khatulistiwa Literary Award - ini nama lengkapnya - harus diejek? Apa salahnya KLA?&lt;br/&gt; &lt;br/&gt; Saya meraba-raba jawaban sendiri. Jika tujuannya mengejek KLA, maka saya kira KAKUS-Listiwa akan konsisten dan harus konsisten tiap tahun mendahului memilih satu buku terburuk, dari daftar sepuluh buku terbaik KLA. Tapi kenapa KLA harus diejek? Mungkin, inilah bagian dari kerja besar sastrawan Boemipoetera: melawan lembaga apapun yang (dianggap) dominan. Ingat kelompok Boemipoetera juga yang melawan Komunitas Utan Kayu (KUK) yang juga (dianggap) mendominasi komunitas sastra lain bahkan mendominasi sastra Indonesia. &lt;br/&gt;  Tapi tujuannya apa? Apakah ingin mengakhiri dominasi (kalau itu memang ada dan mencemaskan kehidupan sastra Indonesia) KUK? Atau meminta Richard Oh - si penyelenggara KLA - agar menghentikan KLA, dan mengalihkan dananya? Tapi dialihkan ke mana dan kepada siapa?&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;      Sambil menunggu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya - dan pasti juga banyak orang seperti saya, yaitu para "wong cilik" dalam kehidupan sastra Indonesia ini - tadi, baiklah kita telisik seperti apakah buku "Bau Betina" dan siapakah Binhad Nurrohmat. Tapi, di tulisan berikutnya saja, ya.... &lt;strong&gt;(bersambung)&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5905237550208066353-7611608105460870699?l=sejuta-puisi2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejuta-puisi2.blogspot.com/feeds/7611608105460870699/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5905237550208066353&amp;postID=7611608105460870699' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5905237550208066353/posts/default/7611608105460870699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5905237550208066353/posts/default/7611608105460870699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejuta-puisi2.blogspot.com/2007/11/bau-betina-dan-kakus-listiwa-1.html' title='Bau Betina dan KAKUS-Listiwa (1)'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5905237550208066353.post-7671713525325858999</id><published>2007-11-23T20:28:00.000-08:00</published><updated>2007-11-23T21:19:00.152-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinasi-wawancara'/><title type='text'>[004] Imajinasi Wawancara:  Santai di Dunia yang Keras</title><content type='html'>&lt;i&gt;Oleh Hasan Aspahani&lt;/i&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sutardji Calzoum Bachri, perlukah saya perkenalkan lagi? Namanya jauh lebih besar dari tubuhnya yang tergolong mungil untuk ukuran orang Indonesia.  Ia berjaket. Nyaris selalu berjaket. Saya membayangkan tubuh di balik jaket itu adalah tubuh yang sewaktu ia muda suka tampil telanjang dada di panggung pembacaan puisi-puisinya.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;Penyair besar kita ini pernah menjadi redaktur puisi di majalah-majalah sastra penting di Indonesia, juga di berbagai surat kabar. Terakhir kali – sebelum mengundurkan diri – beliau menjadi redaktur puisi untuk halaman “Bentara” Kompas.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;Apa yang bisa kita petik bagi kepenyairan kita dari pengalamannya sebagai redaktur puisi? Saya mewawancarainya di sebuah tempat di suatu waktu yang seperti biasa tak perlu dipermanai di mana persisnya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Apa kabar, Pak Tardji? Sehat?&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt; Yah, beginilah. Saya sudah tua. Kau tahu nanti apa rasanya menjadi tua. Semuanya menua. Selera makan, selera seks. Organ-organ tubuh pun menua. Mata pun letih kalau banyak membaca dan menulis.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt; &lt;strong&gt;Ah, kita tidak sedang ingin bicara soal usia tua. Saya mau bertanya soal pengalaman Anda menjadi redaktur puisi dan bagaimana dulu abang menghadapi “kekuasaan” redaktur puisi.&lt;/strong&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Yang mana dulu? Sebagai redaktur atau sebagai…&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Sebagai redaktur dulu deh.&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Di manapun saya menjadi redaktur puisi, selalu saja saya menemukan betapa banyak puisi yang tidak menghiraukan puisi itu sendiri. Ini menyedihkan. Tapi, ini sebenarnya juga memudahkan kerja redaktur. Karena bagaimana pun halaman tempat memuat puisi sangat terbatas. Seleksi harus berlaku ketat. Puisi yang tidak menghiraukan puisi tempatnya kembali ke map, dan pada gilirannya ke tempat sampah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Bagaimanakah puisi yang tidak menghiraukan puisi itu?&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Puisi yang merasa telah meraih puisi hanya dengan menampilkan pesan atau tema sosial (reformasi), religius, moral dan lain-lain. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;strong&gt;Lho, bukannya tema itu juga penting, Pak?&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Puisi bukan sekadar menghiraukan pesan, isi, tema, tetapi terutama memberikan perhatian maksimal terhadap cara pengungkapan bahasanya. Saya bilang, jika engkau sengaja meniatkan puisimu kosong dari tema atau pesan, sekadar elaborasi ungkapan atau kata-kata, bahkan sekadar bunyi-bunyian dari kata-kata namun jika engkau membuatnya padu, intens, terkontrol, menarik dan cantik serta unik dan luar biasa, saya yakin pembaca akan segera sibuk mencarikan tema atau pesan untuk sajakmu yang kau klaim kosong tema atau tanpa makna itu. Engkau tinggal ongkang-ongkang senyum ketawa-ketawa sementara para pembaca dan kritikus ikhlas gembira memeras keringat hati dan otaknya untuk mencarikan pesan atau makna pada sajakmu itu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;strong&gt;Bukankah tema-tema besar itu menantang, Pak? Sangat menantang?&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;Memang, sangat menantang. Tetapi, sajak yang mengandung pesan sebesar apapun jika ia tidak menghiraukan cara pengucapannya, takkan kunjung dianggap sajak yang berhasil. Ibarat perempuan dengan kandungan besar namun tak kunjung melahirkan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;strong&gt;Cara mudahnya, bagaimana melihat kegagalan pengucapan sajak, meskipun dengan tema besar-besar itu?&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sajak-sajak dengan tema besar – menurut penyairnya – seringkali jatuh nilainya karena  sarat dengan ungkapan klise. Ini  menunjukkan sang penyair kurang perhatian terhadap cara berucap, salah satu unsur penting untuk mendapatkan nilai plus dari sebuah sajak. &lt;br/&gt;&lt;strong&gt;&lt;br/&gt; Jadi kita harus menghindari klise, memperhatikan cara ucap. Hmm, susah juga ya…&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Memang, dunia persajakan memang keras dan kejam. Dan di situ tak ada yang menghibur. Di situ berlaku hukum survival of the fittest. Untuk menjadi penyair di dunia kepenyairan yang galak ini, tidak ada jalan lain kecuali kita harus kuat. Kuat menghadapi badai kritik meskipun ini tidak berarti tidak usah mempedulikan kritik, kuat menghadapi sikap bloon dari para komentator puisi, dan kuat menghadapi kedangkalan dari pada konsumen puisi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;strong&gt;Bagaimana supaya kita menjadi kuat?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;Untuk kuat diperlukan  keyakinan. Seorang penyair harus yakin akan kepenyairannya. Jika dia tidak yakin jika ragu-ragu, maka dia akan berada dalam situasi gawat. Jika dia sudah gawat di dalam hiruk pikuk dunia persajakan yang buas ini, maka mudahlah dapat dibayangkan apa yang bisa terjadi pada situasi mentalnya sebagai penyair. Dia akan terhuyung-huyung dan akan mencari pegangan pada acc-acc redaktur puisi yang dianggap berwibawa. Dengan kata lain, dia mencoba meminjam wibawa redaktur agar dia bisa mencapatkan kewibaannya sebagai penyair.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;strong&gt;Tetapi, pemuatan sajak di surat kabar atau majalah, bukankah itu juga ukuran atau cara menguji kekuatan seorang penyair?&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Betul, tetapi kau jangan lupa, bahwa eksistensi kepenyairan bukanlah seharusnya disandarkan pada para redaktur puisi. Menjadi penyair ialah dengan membuat sajak. Cukup! Itu saja. Sikap mengemis agar sajak bisa dimuat oleh redaktur puisi adalah suatu sikap yang harus disingkirkan oleh seorang penyair. Seorang penyair harus bersikap menantang bila dia menyerahkan sajak-sajaknya kepada redaktur sajak.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;strong&gt;Baik, saya mau kembali ke soal tema besar dan sajak yang berhasil. Apakah lantas kita hanya menulis sajak yang ringan-ringan saja?&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;Tema besar bukannya selalu harus dihindari. Tapi jangan tegang-teganglah. Bersantai-santai sajalah.  Sebuah sajak bisa saja dengan gaya santai. Tetapi kalau itu sebuah sajak yang baik, kesantaian itu pastilah hasil dari batin yang berkeringat, mengembara, berdarah, berdenyut, dan merasakan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;strong&gt;Bagaimana cara mencapai tingkat kepenyairan seperti itu, dan menghasilkan sajak-sajak seperti itu?&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Begini, seorang penyair haruslah bisa menyuruh batinnya mengembara masuk dalam ceruk yang dalam dari kehidupan. Bagaikan jaring nelayan, batinnya harus bisa menangkap makna laut kehidupan untuk kemudian kembali menyerahkan pada sajak-sajak yang diciptakannya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;strong&gt;Apa yang harus dilakukan penyair, kalau begitu?&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya tak tahu bagaimana persisnya. Yang jelas tantangan utama bagi seorang penyair ialah dirinya sendiri: bagaimana memperkaya batinnya dengan menangkap makna kehidupan.Maka untuk itulah penyair hidup, luka ketawa-tawa, lapar, bersetubuh, setengah gila dan mengatakan “hai” pada dunia. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Bacaan:&lt;br/&gt;&lt;i&gt;Sutardji Calzoum Bachri; Isyarat, Kumpulan Esai; IndonesiaTera: Yogyakarta, 2007.&lt;/i&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5905237550208066353-7671713525325858999?l=sejuta-puisi2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejuta-puisi2.blogspot.com/feeds/7671713525325858999/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5905237550208066353&amp;postID=7671713525325858999' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5905237550208066353/posts/default/7671713525325858999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5905237550208066353/posts/default/7671713525325858999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejuta-puisi2.blogspot.com/2007/11/004-imajinasi-wawancara-santai-di-dunia.html' title='[004] Imajinasi Wawancara:  Santai di Dunia yang Keras'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5905237550208066353.post-3287802950802772842</id><published>2007-11-16T19:56:00.000-08:00</published><updated>2007-11-16T20:00:36.125-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinasi-wawancara'/><title type='text'>[003] Keterpencilan, Komunikasi,  dan Manfaat Puisi Bagi Kehidupan</title><content type='html'>Karya sastra terpencil dari kehidupan masyarakat? Sastra tidak lagi mendominasi kehidupan manusia? Kalah dengan musik pop? Kalah dengan iklan? Saya menemui Subagio Sastrowardoyo dan Goenawan Mohamad, pada suatu sempat (yang tidak penting bilamanakah itu) pada suatu tempat (yang juga tidak penting dimanakah itu). Goenawan jelas sekali ketuaannya – ia tidak menyembunyikan itu - tapi dia masih menebarkan semangat berkarya yang luar biasa dan suara bicaranya segar.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;Subagio semakin tebal kacamatanya, dan tak lepas dari membuka-buka  halaman buku teori sastra yang menjadi lahapannya. Saya mengintip judulnya: ada “A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory” karya Roman Selden. Ada juga “Literary and Society” Edward Said. Ada juga saya lihat “Structuralism in Literature” Robert Scholes, ah dia sering sekali mengutip buku ini. Juga ada saya lihat bukunya Roland Barthes “Image-Music-Text”, inikah buku dan nama yang amat kesohor itu?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kami berbincang tentang banyak hal. Soal komunitas atau lembaga sastra yang dibangun oleh oleh Goenawan dan gugatan-gugata atas lembaga itu, juga soal krisis kritik sastra yang antara lain juga menjadi kecemasan Subagio, sejak lama.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt; Kami tentu juga memperbincangkan ihwal keterpencilan sastra. Bagaimana membuka keterpencilan sastra itu? Subagio percaya pada pendidikan formal, sementara Goenawan menunjuk suatu titik penting yang seharusnya ditempati oleh kesusasteraan Indonesia. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Hasan Aspahani (HAH): &lt;/strong&gt;Ini kecemasan lama sebenarnya. Sastra dan khususnya karya-karya puisi kita dibaca hanya oleh sedikit orang. Jumlah penikmat puisi selalu jauh lebih sedikit dibandingkan mereka yang menikmati lagu Ungu, Shiela on 7 atau Peterpan. &lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Subagio Sastrowardoyo (SS):&lt;/strong&gt; Ungu? Peterpan? Siapa itu?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Oh, itu kelompok musik pop, Pak.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;SS:&lt;/strong&gt; Oh, oke. Sejak zaman saya juga begitu. Seperti yang Anda bilang tadi. Ini kecemasan sudah ada sejak lama. Peminat lagu Koes Bersaudara selalu lebih banyak daripada penggemar puisi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Apakah takdir sastra itu memang begitu? Sastra bertangan pendek, sehingga hanya segelintir orang dekat saja yang bisa terangkul? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;SS:&lt;/strong&gt; Saya kira, karya sastra harus diarahkan agar bisa mendapat perhatian sebanyak-banyaknya, merangkul peminat sebanyak-banyaknya. Tapi, tetap saja pada sisi lain saya juga berpendapat bahwa terlalu ambisius kalau sastra dikerjakan dengan tujuan supaya dapat merangkul semua orang. Bahkan agamapun juga ditolak oleh sebagian dari manusia bukan? Apatah lagi sastra, atau puisi. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Betul juga ya, Pak. Bahkan kitab suci pun yang apabila dibaca berpahala itu, tak juga dibaca oleh sebanyak banyak pemeluk agama. Lantas kita toh tidak harus menyimpulkan bahwa ayat suci – sabda  itu – kalah bersaing dengan syair lagu pop, dan betapa berpengaruhnya kata-kata dalam teks iklan dalam kehidupan kita. Apakah kalah itu? Siapakah yang bersaing itu?  Tapi, kenapa saya masih cemas? Tolong, bantu yakinkan saya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Goenawan Mohamad (GM): &lt;/strong&gt;Ah, kenapa cemas. Saya telah lama percaya dan meyakini, karya sastra dan khususnya puisi memang tidak bicara kepada massa, tidak datang kepada orang banyak. Puisi tidak bicara kepada “manusia --- pada --- umumnya”. Penyair memang pernah punya posisi khusus dalam masyarakat, sebagai Pujangga. Posisi itu sangat menggoda untuk diduduki bahkan sampai saat ini. Ini menurut saya berbahaya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Kenapa berbahaya?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;GM:&lt;/strong&gt; Karena pada posisinya sebagai pujangga itu, seakan-akan dia dan masyarakat menunggu daripadanya keluarlah semacam sabda, yang hadir sebagai kata, logos, arahan, atau kebenaran. Dalam posisinya sebagai pembawa sabda, seringkali kehadiran seorang sastrawan bukan lagi didefinisikan berdasarkan serangkaian karya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Penyair tapi tak lagi dihitung kebesarannya dari karya syairnya? Kita memerlukan penyair yang memberi sabda atau memerlukan karya syair yang mencerahkan?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;GM:&lt;/strong&gt;  Nah, berbahaya bukan? Kita perlu karyanya. Kesusasteraan Indonesia mutakhir menyangka dan disangka bisa menjadi bentuk ekspresi pamungkas dan menjadi pemberi kata akhir dari semua pertanyaan kehidupan.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Maksud Anda penyair bukan seorang nabi? Tetapi dia bolehkah bila karyanya dijadikan sebagai landasan bersikap? Tetapi saya yakin Anda berdua juga setuju bahwa penyair atau sastrawan tidak juga berada pada posisi sebagai penyanyi pop yang sadar atau tidak kakinya berlumur lumpur industri yang memutar banyak uang, dan mereka dan karya mereka sebenarnya adalah komoditas yang dijual untuk mengeruk untung sebanyak-banyaknya.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;strong&gt;GM: &lt;/strong&gt;Ya, saya hanya ingin bicara tentang kehidupan sastra yang wajar. Yang mempertahankan bahwa ilusi adalah ilusi. Justru dengan menyebar menemui suatu publik pembaca yang luas yang secara tak pasti dikenalnya, kesusasteraan dengan mudah kehilangan kebebasannya untuk menjadi wajar. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Yang wajar itu bagaimana, Pak?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;GM: &lt;/strong&gt;Ya, yaitu karya yang tidak kehilangan kecocokan yang ada ketika sebuah teks adalah sebuah manuskrip dan sebuah audiens adalah pembaca atau pendengar yang terbatas. Audiens semacam itu sudah mengenalnya dan dikenalnya. Maka ketika kesusasteraan harus menjangkau siapa saja, ia tidak bisa menjangkau siapa saja.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH: &lt;/strong&gt;Tapi kita tetap punya alasan untuk cemas atas keterpencilan sastra ini bukan?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;SS:&lt;/strong&gt; Tentu saja. Ketika berkarya – pada satu sisi timbangannya - kita harus berpikir bagaimana karya kita itu disantap oleh sebanyak-banyaknya orang dan mereka mengambil manfaat dari karya kita. Kita harus yakin karya kita adalah pengisi atau pemberi tawaran pada ruang berfungsinya sastra pada kehidupan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Apa itu, Pak?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;SS:&lt;/strong&gt; Begini, tanpa kehidupan sastra, tidak ada pengenalan pada hidup, dan tidak ada pula pendewasaan diri lewat penyelaman batin ke dalam masalah etik, sosial, psikologi dan estetik bangsa sendiri serta kemanusiaan pada umumnya. Tiada juga model yang  bervariasi menurut berbagai sudut pandangan dan situasi peristiwa, yang menjadi pedoman untuk mengukur dan mengatur langkah hidup orang. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Ini yang Anda bilang “kekosongan sastra?”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;SS:&lt;/strong&gt; Ya. Kekosongan hidup sastra, berarti juga kekosongan “fiksi sebagai sumber moral” dan ini amat menyedihkan, dan juga berbahaya untuk perkembangan generasi muda karena kehilangan landasan imajinatif dan kreatif untuk menentukan sikap dan perbuatannya dalam memenuhi tuntutan zaman.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Bukankah sastra khususnya puisi itu dijauhi karena ia dianggap susah dimengerti? Puisi seakan membangun menara gadingnya sendiri. Penyair seakan bangga bila ia bisa berada di suatu ketinggian yang tak terjangkau jauh di atas menara gadingnya sendiri, terpisah dari masyarakat yang seharusnya menghidupkan karya-karyanya?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;GM:&lt;/strong&gt; Begini, dalam puisi sesungguhnya pada mulanya adalah komunikasi. Ia tidak untuk mengasingkan diri. Puisi yang tidak palsu dengan sendirinya dan sudah seharusnya mengandung kepercayaan kepada orang lain, pembacanya.&lt;br/&gt;Memang, pernah dan pasti kelak akan terulang, bahkan saya lihat gejala ini ada pada beberapa penyair mutakhir, dalam perkembangannya puisi Indonesia pernah memasuki “masa gelap”. Penyair dengan segala ikhtiar akrobatik kata-kata seolah-olah menyimpan arti sajak-sajaknya dalam laci di rumahnya sendiri. Pada waktu itu, sekitar tahun 1950-an, puisi seakan-akan mempunya pedoman: makin gelap makin indah nampaknya. &lt;br/&gt;  &lt;br/&gt; &lt;strong&gt;HAH: &lt;/strong&gt;Jadi puisi  yang baik itu adalah puisi yang mudah dimengerti, Pak?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;GM:&lt;/strong&gt; Oh, tidak. Penyair bukan subyek dan pembaca bukan obyek.  Penyampaian pesan dalam puisi tidak dilakukan dengan cara-cara cekokan atau suruh telan, seakan-akan pembaca tidak begitu peka dan begitu bodohnya sehingga tidak bisa berupaya sendiri menangkap kehendak penyair. Penyair tidak harus berteriak, menebarkan slogan-slogan.&lt;br/&gt;Yang terbaik, adalah bagaimana karya puisi seakan membawa penyair dan pembacanya berada di dalam suatu ruang atau dalam suatu suasana dimana tercipta kebersamaan. Kebersamaan meminta banyak hal serba terang, sebab dengan demikian terjamin kejujuran orang yang berada bersama-sama itu, yang saling berbicara itu. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Akrobatik kata-kata tidak menunjukkan sikap yang jujur? Akrobatik kata-kata itu justru menutupi ketidakmampuan berbahasa dengan baik?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;GM:&lt;/strong&gt; Ya, akrobatik kata-kata untuk dengan sengaja membikin gelap --- ingat, dengan sengaja membikin gelap ---  suatu maksud menunjukkan tidak adanya kejujuran. Karya yang tidak jujur pada akhirnya tidak lagii dipercaya pembacanya. Nah, inilah yang banyak terjadi, puisi telah kehilangan banyak kepercayaan pembacanya, bahkan penyair dan sastrawan yang tidak lagi percaya pada puisi dan karya sastra, kepada dirinya sendiri.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Jadi bagaimana ini, Pak? Saya harus bergelap-gelap atau terang-benderang….&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;GM:&lt;/strong&gt; Jangan berpikir ekstrem begitulah. Saya kira, dengan tidak mengaburkan batas antara “kegelapan-supaya-tidak-dimengerti” dan “tidak-menjejalkan-segala-galanya-kepada-pembaca”, di situlah kita harus meletakkan kesusasteraan kita.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Susah juga ya... Eh, tepatnya, sangat menantang. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;SS:&lt;/strong&gt; Menghasilkan karya memang tidak mudah. Apalagi karya yang baik.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Tapi, Pak, bagaimana Anda bisa menjelaskan kenapa Harry Potter itu laku keras? Kalau itu mau juga dianggap sebagai karya sastra? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;SS:&lt;/strong&gt; Itu kelompok musik pop juga?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Oh, bukan, Pak. Itu judul novel serial karya J.K. Rowling. &lt;br/&gt;  &lt;br/&gt;&lt;strong&gt;SS:&lt;/strong&gt; Nah, itu membuktikan bahwa fiksi atau karya sastra ternyata memang bisa merangkul banyak orang, bukan? Asal digarap dengan jurus-jurus yang segar. Pada umumnya ketidakpedulian masyarakat pada kesusastraan itu berpangkal pada kurang adanya keyakinan akan manfaat kerja dan hasil budaya itu. Di tengah suasana hidup yang utilitarian yang mementingkan ekonomi dan politik dengan pengutamaan efisiensi, rasio, kekuasaan, ketertiban, dan keamanan, kesusastraan menjadi perhatian dan kesibukan tak berarti.  Sastrawan, penyair, penulis fiksi, harus bisa meyakinkan pembaca bahwa ada manfaat dari karya yang mereka hasilkan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Pekerjaan meyakinkan itu  berarti tugas diluar kerepotan kita berkarya? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;SS:&lt;/strong&gt;  O, tidak, tidak harus begitu. Meyakinkan pembaca bisa dan harus dilakukan  pada saat kita berkarya, dan dengan karya kita itu sendiri. Ada sesuatu di dalam karya kita yang meyakinkan pembaca . Karya yang bagus adalah karya yang meyakinkan pembaca bahwa ada manfaat dalam karya itu sendiri. Pembaca tidak harus dan tidak bisa dipaksa untuk menerima bahwa karya kita adalah karya yang bagus. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Baik, saya ingat karya tetralogi “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata Seman. Ini buku mutakhir yang laku keras. Pengarangnya yakin bahwa pembaca ada mengambil hikmah atau manfaat dari karya sastra yang ia tulis, karena itu laku keras.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;strong&gt;SS:&lt;/strong&gt; Saya tidak akan salah lagi. Itu bukan kelompok musik pop kan? Nah, itulah dia. Tetapi jangan menghamba pada manfaat itu. Jangan terlalu terpukau pada keriuhan sambutan pembaca saja. Tulislah karya yang baik, dan biarlah karya itu sendiri yang bicara, berjalan ke mana-mana menemui pembaca yang mengambil manfaat dari karya itu. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;HAH:&lt;/strong&gt; Baik, Pak. Di luar karya, apa yang bisa dilakukan? Bukan hanya oleh penyair atau sastrawan? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;SS:&lt;/strong&gt; Saya pernah menulis soal kekosongan sastra itu.dalam sebuah makalah saya “Mengatasi Gejala Kekosongan Hidup Sastra”. Ada enam hal yang saya sebutkan. Usulan terakhir, dan mungkin yang terpenting adalah pembinaan dan pengembangan sastra tidak mungkin dilepaskan dari pendidikan formal. Lewat jalur pendidikan itulah dapat terjamin, tersebar dan berkembang pengetahuan dan penghayatan masyarakat terhadap sastra.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;i&gt;Sumber bacaan:&lt;/i&gt;&lt;br/&gt;1. Mohamad, Goenawaan; Kesusasteraan dan Kekuasaan; Pustaka Firdasus: Jakarta, 1993. &lt;br/&gt;2. Sastrowardoyo, Subagio; Sekilas Soal Sastra dan Budaya; Balai Pustaka: Jakarta, 1999.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5905237550208066353-3287802950802772842?l=sejuta-puisi2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejuta-puisi2.blogspot.com/feeds/3287802950802772842/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5905237550208066353&amp;postID=3287802950802772842' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5905237550208066353/posts/default/3287802950802772842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5905237550208066353/posts/default/3287802950802772842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejuta-puisi2.blogspot.com/2007/11/003-keterpencilan-komunikasi-dan.html' title='[003] Keterpencilan, Komunikasi,  dan Manfaat Puisi Bagi Kehidupan'/><author><name>hasan aspahani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
